Maka, disini saya akan mencoba membahas mengenai tahap pengusaan lagu dari sisi psikologis. Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek psikologis sangat berpengaruh dalam suatu penampilan lagu. Lebih spesifiknya, yang dimaksud aspek psikologis disini adalah dalam konteks penghayatan lagu oleh pemain dan conductor sehingga tentunya lagu juga dapat dihayati oleh pendengar. Apabila sejak awal (atau secepatnya) pemain dapat diajak untuk menikmati dan menghayati lagu, maka akan lebih mudah untuk melatihkannya, karena dapat menjadi faktor sugesti untuk segera membuat lagu yang dilatihkan menjadi indah dan dapat dinikmati pemain maupun pendengar.
Berdasarkan pengalaman bermain dan melatih angklung selama kurang lebih 7 tahun penulis, berikut ini tahap penguasaan lagu dari sisi psikologis; sebagai catatan, hal ini masih terus dalam tahap penelusuran lebih lanjut sehingga belum sempurna, oleh sebab itu diharapkan komentar dari pembaca.
1.Tahap kaget/terpana oleh lagu baru. Pada tahap ini pemain biasanya terpana atau bahkan masih “kaget” terhadap partitur lagu yang disajikan. Hal ini dapat berdampak positif maupun negatif. Dampak positifnya, pemain merasa “penasaran” untuk memainkannya, sedangkan negatifnya pemain justru merasa terbebani. Persepsi ini sebenarnya sangat tergantung kepada bagaimana pelatih memperkenalkan lagu di awal latihan. Menurut penulis, yang paling baik dalam memperkenalkan lagu adalah dengan mendorong pemain untuk bermain sebaik mungkin sehingga menjadikannya indah serta dapat dinikmati oleh semuanya. Dengan kata lain, pemain sebaiknya “ditantang” untuk mengeluarkan potensi maksimalnya demi tujuan bersama, tetapi sebagai catatan sebaiknya jangan sampai “tantangan” tersebut menjadi beban, melainkan menjadi motivator.
Written by Muhamad Husen Ali, on Friday, 08 January 2010
Average user rating
(0 vote)
Views
99
Saung Angklung Udjo registrates Angklung, the Indonesian traditional music instrument made of bamboo, at UNESCO in order to protect the instrument as one of Indonesia’s cultural heritage. The registration was made on Wednesday, 26 August 2009, facilitated by the Department of Education, the Coordinating Ministry of Welfare Affairs, and the Department of Cultural and Tourism.
“So Angklung is registered as an intangible cultural heritage nomination from Indonesia,” the Operational Director of Saung Angklung Udjo, Satria Yanuar Akbar said in Bandung, Friday 28 August 2009. According to Satria, before the proposal of Angklung registration sent to UNESCO, his community along with other communities in Indonesia attended verification meeting which took place on Saung Udjo, on 11 August as speakers/sources.
According to Satria, the speakers are divided into two categories: 1) traditional Angklung communities, such as those from Banten, Ujungberung, and Kasepuhan Garut West Java, and 2) modern Angklung communities that gather in Saung Pak Daeng, such as Saung Angklung Udjo, Angklung communities at schools, and Angklung public communities. “At least 13 communities exist, although we actually have more than that,” he said.
At this stage, Satria awaits for the result of verification process conducted by UNESCO. Verification is necessary in order to prove whether or not Angklung has a significant role in daily life of many races in Indonesia. “If we pass the verification process, UNESCO then will issue a certificate and it means Angklung has been admitted as one cultural heritage of Indonesia, apart from wayang golek, keris, and batik that have been previously admitted.”
Even though Satria appreciates Government’s effort in facilitating the registration, he still considers the Government is less-responsive to such issue. As a comparison, Satria said, Republic of China Government has registered more than 1,000 cultural heritages within 10-year time. South Korean Government is already on the same way by registering their 100 cultural heritages more less.”
“Indonesia Government just started registering cultural heritages in 2002. Only four registered so far,” he said. In Malaysia, Angklung is considered as part of local culture.
For certain, all of us hope the best for the verification process to get succeeded. In addition, we would like to see a more proactive Indonesian Government in protecting Indonesia’s cultural heritage, one of many ways through this registration. Not only Government, we as Indonesians are also responsible for more loving and appreciating Indonesian culture.
Let’s conserve our culture, Indonesian culture!
Artikel ini diterbitkan kembali oleh KPA3. Artikel yang asli dapat dilihat di Great Indonesia
Written by Listia Rahmandaru Guntur, on Thursday, 24 December 2009
Average user rating
(0 vote)
Views
160
Angklung selalu
menarik untuk diteliti dari berbagai bidang, salah satunya adalah pada bidang
Psikologi. Angklung diyakini memiliki karakteristik-karakteristik unik yang
membuatnya mampu mengikuti arus globalisasi dan modernisasi. Karakteristik
tersebut diutarakan oleh Daeng Soetigna dengan sebutan 5M, yaitu mudah, murah,
menarik, mendidik dan massal. Dengan karakter angklung tersebut, angklung
menonjol dalam pembangunan karakter seperti kerja sama, gotong royong,
disiplin, kecermatan, ketangkasan, tanggung jawab, dan lain-lain. Kemudian hal
tersebut meningkat pada membangkitkan perhatian terhadap musik, mengembangkan
musikalitas, rasa ritmik, rasa melodi, rasa harmoni, dan lain-lain (Burda T.).
Angklung dapat dimainkan siapa saja dari semua kalangan dan usia, sehingga
tidak membutuhkan keterampilan khusus apapun di bidang musik.