Written by Listia Rahmandaru Guntur, on Monday, 18 April 2011
Average user rating
(1 vote)
Views
1836
Sebagai salah satu rangkaian kegiatan dari Konser Orkestrasi IX yang akan diselenggarakan pada 17 Juli 2011 di Esplanade Concert Hall, Singapore, KPA 3 akan menyelenggarakan
Angklung Evening Concert 3
Angklung: The Musicals
Konser ini akan dilaksanakan pada 7 Mei 2011, pukul 19.30 WIB
di Teater Terbuka Dago Tea House, Bandung.
Sesuai dengan tema yang diusung, pada konser ini KPA 3 akan membawakan angklung dalam rangkaian musik-musik yang kolosal, unik, dan atraktif yang diambil dari panggung musikal Broadway yang sangat mendunia, dimana terdapat pesan dan kesan tersendiri dalam setiap lirik dan iramanya. Tema ini tidak lain dipilih sebagai usaha KPA3 untuk selalu melakukan inovasi yang dapat mengeksplorasi angklung sebagai alat musik yang universal. Kali ini, KPA3 berusaha untuk membuat langkah yang lebih besar dengan menyelenggarakan KOA berskala internasional, mempersembahkannya untuk komunitas yang lebih luas.
Tiket dapat langsung direservasi melalui Adni 08996000535 dan Amyra 082117043545.
Written by Listia Rahmandaru Guntur, on Thursday, 09 December 2010
Average user rating
(0 vote)
Views
1793
Wacana mengenai perebutan hak paten angklung oleh Malaysia yang beredar sekitar 4 tahun terakhir ternyata juga menimbulkan dampak positif bagi Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa semenjak wacana ini beredar menimbulkan perhatian dan usaha pengembangan lebih besar terhadap angklung. Hal ini tidak hanya terjadi pada pemerintah, pemerhati budaya, tetapi juga pada masyarakat umum. Konser angklung, festival, pameran, munculnya di media massa, seminar, dan workshop mengenai angklung semakin sering diadakan sebagai usaha mengembangkan dan mensosialisasikan kesenian ini. Tidak hanya itu, semakin banyak pula sekolah yang menjadikan angklung sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler, juga muhibah kesenian angklung ke luar negeri dari berbagai tim angklung. Lewat kegiatan ini, secara tidak langsung kita dapat menunjukkan identitas angklung sebagai kebudayaan asli yang berasal dari Indonesia.
Berkat usaha dari berbagai kalangan ini, akhirnya pada tanggal 16 November 2010, tepatnya pada pukul 16.20 pada sidang ke-5 Inter-Governmental Committe Unesco di Nairobi, Kenya, angklung ditetapkan sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pihaknya mencatat warisan dunia sampai saat ini sudah sebanyak 890 situs dengan 689 berupa warisan budaya, 176 warisan alam, dan 25 campuran antara warisan budaya dan warisan alam. Pengukuhan angklung oleh badan PBB sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia itu melengkapi penetapan sebelumnya untuk batik, wayang, dan keris. Menurut Jero Wacik, pengukuhan angklung merupakan pencapaian yang sangat baik karena perjuangan untuk meloloskan upaya pengukuhan itu sangat sulit.
"Di antara jumlah itu, warisan dunia yang dimiliki Indonesia sudah sebanyak 11 buah," katanya. Dari 11 warisan dunia yang dimiliki Indonesia sebanyak 4 di antaranya berupa alam, 3 cagar budaya, dan 4 karya budaya tak benda.
Pencapaian ini patut disyukuri sebagai hasil dari usaha yang dilakukan oleh banyak pihak. Namun, seiring berlalunya penetapan ini, pemberitaan di media mengenai tindak lanjut dari prestasi ini kurang tampak. Lalu, pertanyaannya sekarang, setelah berhasil menjadikan angklung sebagai warisan budaya dunia kebanggaan milik Indonesia, apa yang bisa kita lakukan?apakah artinya perjuangan telah berakhir? Tentu tidak. Justru keberhasilan ini merupakan sebuah awal perjuangan yang sesungguhnya. Hal inilah yang harus disadari dan diantisipasi oleh semua pihak, bahwa dengan berhasilnya perjuangan ini, harus menjadi bahan evaluasi dan pendorong untuk perjuangan selanjutnya. Jangan sampai karena keberhasilan ini kita malah terlena dan mengabaikan pengembangan dan pelestarian angklung. Sudah seharusnya keberhasilan dari awal perjuangan ini dapat menjadi motivator untuk terus melakukan pengembangan angklung. Begitu banyak potensi angklung yang belum terungkap, untuk itu sangat dibutuhkan penelitian-penelitian angklung di berbagai disiplin ilmu untuk pengembangannya, seperti biologi (khususnya mengenai jenis-jenis bambu), fisika (terutama dalam hal akustik), manajemen dan psikologi (dalam hal pengembangan tim dan terapi psikologis), dan lain-lain. Dengan demikian, potensi-potensi angklung dapat terbukti secara ilmiah dan dapat dimanfaatkan tidak hanya dalam hal kebudayaan, tetapi juga dalam berbagai konteks kehidupan.
Bravo Indonesia!! Bravo Angklung !!! (dari berbagai sumber).
Written by anugrah sabdono s, on Monday, 30 August 2010
Average user rating
(0 vote)
Views
1499
Pendahuluan
Pada saat
ini musik angklung sudah sangat berkembang secara permainan, akan tetapi
penelitian pada musik ini masih sangat minim dilakukan. Belum ada parameter
akustik yang spesifik terhadap musik ini. Penelitian dalam bidang ini harus
banyak dilakukan untuk mendukung perkembangan musik angklung.
Musik adalah sesuatu yang bersifat subjektif. Rasa suka
manusia terhadap musik berbeda-beda tergantung selera. Oleh karena itu perlu
diketahui parameter akustik dari musik angklung yang
bersifat subjektif dengan menggunakan metode
psikoakustik.
Psikoakustik
adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari persepsi suara oleh manusia secara
subjektif. Cabang ilmu ini mencoba mengaitkan parameter yang bersifat subjektif
dengan parameter objektif dengan pendekatan metode psikologis. Dengan metode
ini persepsi yang bersifat subjektif dapat dijelaskan dengan parameter objektif
yang dapat diukur dan dihitung.
Parameter
yang akan ditentukan dalam penelitian ini adalah waktu dengung dari musik
angklung yang paling optimum dengan pendekatan psikoakustik. Dari penelitian
ini didapatlah hasil bahwa waktu dengung untuk musik angklung yang paling
optimin adalah waktu dengung selama 1 detik.
Written by Listia Rahmandaru Guntur, on Tuesday, 03 August 2010
Average user rating
(0 vote)
Views
2000
Tim ESA 2010
Setelah menjalankan misi kebudayaan selama kurang lebih 32 hari di negeri orang, kepulangan tim Expand the Sound of Angklung 2010 (ESA 2010) KPA 3 pada minggu malam 1 Agustus 2010 lalu, disambut hangat oleh berbagai pihak, tentunya terutama keluarga anggota tim ESA 2010, anggota KPA 3, serta segenap civitas akademika SMAN 3 Bandung.
Tim ESA 2010 KPA SMAN3 Bandung telah selesai menjalankan program muhibah misi kebudayaan ke tiga negara yakni Slovenia, Austria, dan Spanyol pada 27 Juni-1 Agustus 2010. Tim ini membawa dan menampilkan pertunjukkan angklung yang dikemas secara apik, tidak hanya memainkan musik-musik tradisional Indonesia lengkap dengan kostum daerah yang sangat beragam dan menarik, melainkan juga memainkan karya-karya musik klasik milik komposer-komposer kelas dunia.
Di Slovenia, tim ESA 2010 KPA 3 mengikuti "22nd International CIOPP Folklore Festival Folkart" di kota Maribor. Pada festival kebudayaan ini tim ESA 2010 KPA 3 mempertontonkan berbagai tarian daerah Indonesia, salah satu yang paling menarik minat penonton adalah tarian Saman dari Aceh.Setelah mengikuti festival ini, perjalanan 37 orang anggota tim ESA 2010 KPA 3 berlanjut ke Austria, untuk mengikuti “Summa Cum Laude International Youth Music Festival 2010” pada 4-6 Juli 2010. Festival ini merupakan sebuah ajang kompetisi internasional tahunan yang bergengsi bagi musisi-musisi muda beraliran klasik dari berbagai belahan dunia. Di samping Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung, terdapat 23 kelompok musik yang berpartisipasi dalam festival tahun ini di antaranya adalah kelompok musik asal China, Philipina, Irak, Australia, Ukraina, Laos, Jerman, Polandia, Belanda dan Swiss.
Alunan Symphony No. 1 flat major, 3rd Movement Scherzo (molto vivace) Op. 38 karya Schuman dari orkestra angklung dibawakan dengan apik oleh tim Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung dan telah memukau kurang lebih 2000 hadirin pada Gala Winners Concert di Golden Hall Musikverein Wina, yang merupakan bagian rangkaian dari festival ini. Penampilan Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung patut dibanggakan karena untuk tampil dalam gala concert tersebut peserta harus memenangkan kompetisi yang terdiri dari berbagai kategori. KPA 3 Bandung merupakan pemenang kategori khusus (winner of the special award of the Summa Cum Laude Festival). Penampilan KPA SMAN 3 Bandung dalam Festival ini telah membuat catatan sejarah kelompok musik tradisional Indonesia yang pertama kali tampil di Golden Hall Musikverein Wina. Musikverein Wina merupakan satu di antara concert hall yang terbaik di dunia.
Sebagai bagian dari perjalanan Expand the Sound Of Angklung 2010 ini, tim ESA KPA 3 juga mengadakan konser di Museum für Volkerkünde (Museum Etnologi) Wina pada 8 Juli 2010. Konser yang merupakan kerjasama antara KBRI/PTRI Wina dengan pihak Museum, ditonton sekitar 100 orang. Selama hampir dua jam penuh para anggota KPA 3 Bandung memukau penonton dengan persembahan lagu-lagu Indonesia dan lagu-lagu Barat, termasuk beberapa lagu karya ciptaan komposer Austria ternama. Para anggota KPA 3 Bandung mengenakan busana tradisional Nusantara dari berbagai daerah, sehingga secara visual menjadi pemandangan yang atraktif bagi para penonton yang terdiri atas masyarakat lokal Austria dan masyarakat Indonesia di Wina. Para penonton, khususnya para warga Austria, sangat kagum bahwa alat musik yang terbuat dari bambu dapat memainkan karya-karya musik klasik yang kompleks.
Pada sela-sela konser, pembawa acara memandu berlangsungnya suatu lelang angklung raksasa kepada penonton untuk menggalang dana bagi KPA 3 Bandung. Angklung raksasa tersebut laku dilelang dengan harga € 160. Untuk penggalangan dana, KPA 3 Bandung juga menjual busana batik dan aneka cenderamata dari Indonesia kepada para penonton di ruang tempat berlangsungnya konser yang ramai dibeli para penonton.
Setelah partisipasi dalam Summa Cum Laude International Youth Music Festival 2010 dan mengadakan konser di Wina, Austria, tim ini melanjutkan perjalanan muhibah kebudayaannya ke Spanyol. Tim ESA 2010 KPA 3 berpartisipasi dalam "International Folk Festival (Festival International de Folklore) of Ciudad Real" di Ciudad Real, dan "International Folk (Festival Folklorico International) of Extremadura" di Badajoz Spanyol. Ternyata prestasi KPA 3 ini mendapat cukup banyak perhatian baik dari media cetak dan elektronik. Beberapa minggu terakhir, banyak media yang memberitakan tentang ESA 2010 ini. Tak hanya itu, stasiun televisi SCTV dan TV One juga mengadakan liputan khusus untuk KPA 3 pada tanggal 31 Juli dan 2 Agustus lalu.
Semoga dengan prestasi ini, bisa terus memacu masyarakat khususnya generasi muda untuk mengembangkan kebudayaan tradisional Indonesia, khususnya angklung.Tak lupa KPA 3 mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung terlaksananya program ini.