Written by Ema Nur Arifah (detikBandung, Sabtu 12 Juli 2008), on Wednesday, 30 July 2008
Average user rating
(0 vote)
Views
3047
Salah satu penampilan KPA3
Merdunya alunan suara angklung dengan penambahan ritmis dari bas, gendang kadangkala diiringi gitar berpadu jadi komposisi bermagnet yang menggugah rasa cinta terhadap musik tradisional. Kelompok ini memang mampu menyajikan harmoni yang bisa melesatkan mereka terbang menjelajahi Eropa.
Kelompok Paduan Angklung SMA 3 Bandung atau KPA 3, nama besar mereka sudah tak bisa dikata, baik untuk dunia pendidikan maupun kontribusinya dalam mengangkat nama angklung sebagai musik tradisional bangsa. Tak kurang dari 370 penampilan mereka ikuti baik lokal maupun skala internasional. Dalam setiap festival yang mereka ikuti, penghargaan dalam angka tiga besar selalu mereka dapatkan.
Written by ANTARA (antara.co.id, Selasa 24 Juni 2008), on Wednesday, 30 July 2008
Average user rating
(0 vote)
Views
2678
Ratusan penonton festival musik "Fete de la Musique" di Jenewa menikmati alunan angklung dari Kelompok Le Sangkuriang yang antara lain membawakan lagu balada Italia, O Sole Mio, karangan komponis E. Di Capua.
Penonton bahkan ikut memainkan alat musik asal Jawa Barat tersebut bersama para pemain Le Sangkuriang. Sebanyak 40 pemain itu adalah warga Indonesia yang tinggal di Jenewa. Le Sangkuriang dibentuk oleh Kuasa Usaha Ad Interim/Dubes RI di Jenewa, I Gusti Agung Wesaka Puja, kata Sekretaris PT (Perwakilan Tetap) RI Jenewa Yasmi Adriansyah kepada ANTARA London, Selasa. Selain lagu O Sole Mio, Le Sangkuriang menampilkan lagu Pepito, Song of Doremi, Edelweiss dan lagu daerah seperti Rasa Sayange dari Maluku, Manuk Dadali dan Es Lilin dari Jawa Barat.
Written by Kick Andy (kickandy.com, tayang Kamis 19 Juni 2008 pukul 22.05 dan Minggu 22 Juni 2008 pukul 15.05), on Tuesday, 17 June 2008
Average user rating
(1 vote)
Views
2576
Cuplikan Tayangan Kick Andy
Ini bukanlah kisah perjalanan hura-hura yang menyenangkan, tapi sebuah kisah perjuangan anak-anak muda asal Bandung, Jawa Barat, dalam sebuah “mission impossible”, melanglang Eropa demi menebar pesona budaya angklung di jagat internasional. Dengan budget yang sangat defisit, mereka menggelandang selama 40 hari di sana. Mereka pulang kembali ke Indonesia dengan piala ”Cipuaga” sebuah penghargaan bergengsi di festival Zakopane di Polandia. Ironisnya saat pulang mereka masih meninggalkan sejumlah utang yang harus dibayar.
Angklung tak sekedar bunyi dari batang bambu, di balik semua kekhasan nada-nada yang dilahirkan, angklung memiliki sebuah pesona yang memikat, tak hanya bagi kita sebagai warga Indonesia, tapi juga para expatriat. Setidaknya, ini lah yang diakui oleh Mattew, seorang warga negara asal New Zealand. ”Bagi saya suaranya sangat khas dan unik, sangat berbeda dari jenis musik lainnya,” katanya.
Written by Ratna Djuwita (Pikiran Rakyat, Minggu 25 Mei 2008), on Wednesday, 04 June 2008
Average user rating
(0 vote)
Views
2526
Tampil di kota sendiri seperti Bandung, itu sudah biasa. Tapi, unjuk kebolehan di Melbourne, Australia adalah kesempatan luar biasa. Hal inilah yang dialami grup Gentra Musik Angklung (Gema) Unisba dan para penari yang tampil di Melbourne Town Hall, Jumat (9/5).
Kesempatan tampil di tempat bergengsi itu, menurut Rektor Unisba Prof. Dr. H. E. Saefullah Wiradipradja, S.H., L.L.M., berkat jasa pihak Pencak Silat Indonesia, di bawah Pimpinan Edy Nalapraya. "Oleh karena itu, Unisba sangat berterima kasih kepada Pak Edy, terutama kepada Konjen Indonesia di Melbourne Budiarman Bahar. Jika bukan ajakan beliau, mungkin tim angklung Unisba belum saatnya tampil di Town Hall," ujar Saefullah yang juga sebagai ketua rombongan.
Written by Ratna Djuwita (Pikiran Rakyat, Minggu 18 Mei 2008), on Wednesday, 04 June 2008
Average user rating
(0 vote)
Views
2676
Menyaksikan pertunjukan grup Gentra Musik Angklung (GeMA) Universitas Islam Bandung (Unisba) di acara "Combining the Artistry of Indonesian Traditional Music, Dancer, and The Combat Art of Pencak Silat" di Melbourne Town Hall, Swastons St, Melbourne, Australia, Jumat (9/5), sebanyak dua kali, siang dan malam, sesuatu yang di luar dugaan.
Betapa tidak, Melbourne Town Hall sangat megah dan mewah. Gedung yang terletak di pusat Kota Melbourne itu, setiap orang memasuki gedung, penonton harus melewati karpet merah yang berterap mengikuti alur anak tangga yang menghubungkan ke lantai satu. Gedung ini juga mampu menampung 1.800 penonton dengan kursi yang empuk dan nyaman. Sudah termasuk di bagian tribun yang terletak di lantai dua, menyerupai huruf U dan mampu menampung 300 penonton. Untuk pintu keluarnya terdapat delapan pintu. Di gedung inilah GeMA Unisba tampil bersama Grup Pencak Silat Pimpinan Edi Nalapraya yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Pencak Silat dari Jawa Barat.