Written by Nabila Putri Kencana, on Saturday, 16 October 2010
Average user rating
(0 vote)
Views
1966
Indonesia’s traditional music
instrument, the ’Angklung’, is soon to be officially delared a world
heritage item by the United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organization (UNESCO) like batik, wayang, and the keris before. “On November 18, angklung will be declared a world
heritage article ,” Wardiyanto, secretary general of the Tourism and Culture
Ministry, said here Thursday. He said the ministry had made intensive efforts to
convince UNESCO of the need to recognize angklung as one of the
world’s heritage items like batik, the keris (ceremonal dagger) and
wayang (Javanese traditional puppets) which had obtained the world heritage
status earlier, he said. The efforts to get the angklung included in the
Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, were made
for the first time years ago, he said. “We plan to have more things of Indonesian
culture recognized as part of the world’s heritage,” he said.
At present a total of 890 objects world wide
are on UNESCO’s world heritage list and 689 of them are in the culture
category, 176 in the nature category and 25 in both the culture and
nature categories. Of the 890 objects with world heritage
status 11 were Indonesian with four of them in the nature, three in
the culture and four in the intangible culture categories.
The Indonesian natural heritages consist of Ujung Kulon National Park in Banten
Province, Komodo National Park in East Nusa Tenggara, Lorentz National Park in
West Papua province, and Sumatran tropical forests comprising the Gunung
Leuser, Kerinci Sablat and Bukit Barisan national parks.
The three cultural heritages are the Borobudur
Temple, Prambanan Temple, and Sangiran Pre-historical site. The intangible
world heritages from Indonesia were the wayang and keris which were
recognized as masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity in
2003 and 2005, and also batik as a tangible cultural heritage of humanity in
2009.
Written by Listia Rahmandaru Guntur, on Monday, 22 March 2010
Average user rating
(0 vote)
Views
2986
Liputan salah satu televisi swasta pada malam KOA VIII
Lokasi konser yang berjauhan dengan “kandang”nya tidak membuat Konser Orkestrasi Angklung VIII yang diselenggaran KPA 3 sepi penonton. Konser yang bertajuk “Tapestry of Beauty : Presenting Maestros from All Around the World” yang diselenggarakan pada tanggal 20 Maret 2010 di Aula Simfonia Jakarta ini dihadiri sekitar 1000 penonton dari berbagai kalangan. Pada sesi pertama, konser ini menampilkan karya-karya komposer legendaris dunia seperti Beethoven, John Williams, Strauss, Dvorak, Bach, dan lain-lain yang dipimpin oleh salah satu conductor senior terbaik KPA 3, dr. Djiwa Margono. Tak lupa tentunya menampilkan karya maestro kebanggaan negeri sendiri seperti Guruh Soekarno Putra dan Eros Djarot. Konser ini dibuka dengan lagu Palladio kemudian Symphony no.5 yang dilanjutkan lagu-lagu klasik lainnya yang tentunya tak asing baik bagi penikmat musik klasik maupun orang pada umumnya.
Konser yang konsepnya dirancang oleh Arman Reyes Furqon ini semakin lengkap karena di sesi dua menampilkan tenoris dan sopranis terbaik Indonesia, yakni Christopher Abimanyu dan Aning Katamsi. Dua vokalis ini menampilkan duet mautnya pada lagu Li Biamo Ne Lieti Calici, kemudian masing-masing juga membawakan lagu-lagu gubahan Guruh Soekarno Putra sebagai penutup. Pada sesi kedua ini dimpimpin oleh conductor Miryam Wedyaswari.
Selain itu, konser ini tak luput dari perhatian beberapa media elektronik maupun cetak ibu kota dan Bandung, serta beberapa stasiun televisi swasta Indonesia. Dengan packaging konser kemarin yang merupakan hal baru baik bagi KPA 3 maupun dunia perangklungan pada umumnya, KOA VIII mendapatkan apresiasi sangat baik dari berbagai pihak. Mudah-mudahan hal ini dapat terus memicu perkembangan angklung pada umumnya, juga KPA 3 khususnya.
Suatu kebanggan bagi KPA 3 dapat melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Indonesia, khususnya angklung, salah satunya dengan cara menunjukkan bahwa instrumen ini berpotensi untuk menampilkan berbagai jenis aliran musik di antaranya klasik. Tanpa menghilangkan karakteristik angklung yaitu Mudah, Murah, Menarik, Mendidik, dan Massal, KPA 3 berhasil membawakan lagu-lagu klasik dengan baik.