| Written by Tomi Fadlan, on Monday, 27 August 2007 |
| Average user rating |
(0 vote) |
|
| Views |
4169  |
|
Daeng Sutigna adalah penemu angklung diatonis. Tanpanya angklung hanyalah alat musik pentatonis tradisional yang hanya bisa memainkan lagu-lagu tradisional. Bapak Daeng Sutigna (Padaeng) merasa kecewa karena angklung yang merupakan bagian dari kekayaan bangsa hanya menjadi barang yang mulai dilupakan orang. Pada tahun 1938, beliau berhasil menciptakan kembali angklung yang tadinya berlaras pentatonis (da-mi-na-ti-la) menjadi diatonis (do-re-mi-fa-sol-la-si). Dengan demikian angklung tidak hanya digunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisional tapi juga dapat memainkan lagu-lagu modern. Prestasi kami sekarang tak akan pernah bisa tercapai jika Daeng Soetigna tidak menemukan angklung diatonis. Dengan tangan dinginnya, angklung telah menjadi lebih terkenal dan berharga daripada sebelumnya. Beliau mempunyai harapan untuk menjadikan angklung sebagai kontribusi positif untuk perdamaian dunia. Sekarang, angklung telah menempatkan dirinya pada posisinya sebagai warisan budaya dari sejarah kehidupan manusia. Untuk menghormati perjuangan beliau dalam menciptakan dan melestarikan angklung, maka kami, Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung (KPA3), menyelenggarakan konser bertajuk “A Tribute to Daeng Sutigna” pada tanggal 20 Januari 2007, bertempat di Taman Budaya Jawa Barat, Bandung.
Kami menyadari bahwa kami tidak memiliki cukup pengalaman untuk menampilkan perjalanan hidup Daeng Soetigna. Akan tetapi, kami sangat bangga akan tekad kami untuk mencoba menghadirkan dan menampilkan kesenian angklung sebagai rasa terima kasih kepada Bapak Daeng Soetigna. Konser yang berlangsung kurang lebih selama 100 menit ini memainkan 15 buah lagu yang dibagi menjadi 3 sesi yang setiap peralihan sesi diselingi oleh rangkaian multimedia tentang sejarah dan perkembangan angklung dan sebuah penampilan kesenian angklung buncis yang biasanya ditampilkan dalam perayaan hasil panen. Konser dimulai dengan lagu Mars Angklung. Lagu ini merupakan lagu yang diaransemen oleh Padaeng dan pernah dimainkan oleh seribu siswa dari seluruh Bandung pada upacara pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-5 di stadion Siliwangi, Bandung. Setelah Mars Angklung selesai, dilanjutkan dengan penampilan angklung buncis. Enam belas pemain angklung buncis yang terbagi menjadi dua kelompok masing-masing delapan orang memainkan angklung sambil menari diiringi empat orang pemain dogdog. Keceriaan perayaan musim panen semakin terasa saat para pemain angklung buncis membentuk formasi-formasi tarian sambil terus memainkan angklungnya. Sesi The Rebirth of Angklung menampilkan lagu-lagu yang diaransemen oleh Padaeng mulai lagu Meninjau Alam, Keroncong Telaga Biru, Blue Danube, Aryati, dan Keroncong Kemayoran. Sesi ini menampilkan perkembangan angklung dari alat musik tradisional sehingga bisa memainkan lagu-lagu keroncong dan waltz. Seiring dengan berjalannya waktu, aransemen angklung telah menjadi lebih kompleks dan semakin unik. Interpretasi, jenis musik, dan sudut pandang yang berbeda telah membuat angklung semakin berkembang. Kami mencoba menampilkan perkembangan itu pada sesi selanjutnya , The Unfolded Journey yang menampilkan lagu-lagu aransemen baru yang menunjukkan terus berkembangnya angklung sehingga bisa memainkan lagu-lagu dari berbagai jenis musik. Dari mulai Njit-Njit Semut, Bengawan Solo, Rumah yang Manis, Dua Balerina hingga Nessun Dorma. Sesi ini membuktikan bahwa seiring berjalannya waktu maka angklung pun terus berkembang mengikuti zaman. Angklung sebagai instrument yang alami, unik, dan universal telah membuat kebudayaan Indonesia semakin dikenal dunia. Sesi Into the Bright Future menampilkan lagu-lagu yang mewakili harapan Padaeng pada musik angklung dan juga kecintaan dan rasa terima kasih kami kepadanya atas warisannya yang paling berharga yaitu angklung. Lagu-lagu yang dimainkan pada sesi ini adalah One Moment in Time, Spirit of Youth, dan Eternity. Adalah tantangan untuk kita semua untuk menghargai, melestarikan, dan mempertahankan angklung sebagai warisan budaya Indonesia dan untuk membuat angklung sebagai kontribusi utama Indonesia untuk perkembangan kebudayaan dunia. You always mean The song inside of me And when I think of you, I see The melodies That you bring Though the seasons change You’ll always live in my heart Together we have found Peace of eternity Eternity…. Setelah lagu Eternity, acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan pada cucu dari Padaeng yaitu Iwan Pyrous. Bapak Iwan Pyrous sempat menceritakan kenangannya bersama Padaeng dan bagaimana harapan Padaeng terhadap angklung. Selanjutnya sambutan dari walikota Bandung Bapak Dada Rosada. Lagu penutup dari konser ini adalah Medley Indonesia Persada yang terdiri dari Tanah Airku, Indonesia Tanah Pusaka, dan Rayuan Pulau Kelapa. Setelah lagu ini berakhir, maka berakhir pula konser ini. Sebuah konser kecil tentu tidak dapat membalas jasa-jasa Padaeng. Konser ini adalah wujud rasa terima kasih dan penghargaan kami terhadap dedikasi Padaeng terhadap musik angklung. Tugas kitalah untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan musik angklung.
Users' Comments (2)  |
|
|