Angklung Sebagai Sarana Meningkatkan Efektivitas Tim
Written by Listia Rahmandaru Guntur, on Thursday, 24 December 2009
Average user rating
(0 vote)
Views
944
Angklung selalu
menarik untuk diteliti dari berbagai bidang, salah satunya adalah pada bidang
Psikologi. Angklung diyakini memiliki karakteristik-karakteristik unik yang
membuatnya mampu mengikuti arus globalisasi dan modernisasi. Karakteristik
tersebut diutarakan oleh Daeng Soetigna dengan sebutan 5M, yaitu mudah, murah,
menarik, mendidik dan massal. Dengan karakter angklung tersebut, angklung
menonjol dalam pembangunan karakter seperti kerja sama, gotong royong,
disiplin, kecermatan, ketangkasan, tanggung jawab, dan lain-lain. Kemudian hal
tersebut meningkat pada membangkitkan perhatian terhadap musik, mengembangkan
musikalitas, rasa ritmik, rasa melodi, rasa harmoni, dan lain-lain (Burda T.).
Angklung dapat dimainkan siapa saja dari semua kalangan dan usia, sehingga
tidak membutuhkan keterampilan khusus apapun di bidang musik.
Satu buah angklung hanya menghasilkan satu nada, sehingga
bila memainkan suatu lagu haruslah menggunakan banyak angklung yang akhirnya
akan melibatkan banyak sumber daya manusia pula. Terlibatnya banyak orang dalam
memainkan sebuah lagu, mendidik mereka akan pentingnya kerjasama antaranggota
kelompok (www.wrm-indonesia.org). Karena
hal ini pula yang menjadikan setiap individu memiliki peran yang signifikan
walaupun seseorang hanya memainkan satu nada dan berperan dengan kadar yang
berbeda dalam lagu. Apabila ada satu orang tidak hadir maka akan menghambat
proses latihan karena nada yang tidak lengkap sehingga tidak menghasilkan
harmoni yang utuh pada lagu yang dimainkan. Untuk itu, ketika bermain angklung
setiap orang dituntut untuk mau bekerja sama dengan orang lain untuk
menghasilkan sebuah lagu dan akhirnya menampilkannya secara bersama-sama pula. Pada
penampilannya, baik buruknya penampilan di mata penonton tidak dipandang
sebagai hasil individual, tetapi hasil kelompok yang merupakan gabungan dari
peran setiap orang.
Dengan tuntutan tersebut, berlatih angklung ini dapat
menjadi sarana yang baik untuk mengembangkan proses perkembangan tim sehingga
dapat menjadi sebuah tim yang efektif. Efektivitas tim merupakan hal yang sangat penting agar
suatu tim dapat bertahan. Efektivitas tim mengacu pada bagaimana suatu tim
mempengaruhi suatu organisasi, individu anggota tim, dan eksistensi tim (R.A.
Guzzo dan M. W. Dickson). Efektivitas tim yaitu keadaan dimana suatu tim
berhasil mencapai tujuannya, memenuhi kebutuhan dan tujuan anggotanya, dan
dapat bertahan seiring berjalannya waktu.
Menurut D. W. Johnson (1989), tim yang
efektif mempunyai tiga inti kegiatan (1) pencapaian tujuan, (2) mempertahankan
hubungan kerja yang baik antaranggota, (3) berkembang dan beradaptasi dalam
perubahan situasi untuk memperbaiki efektivitas. Dimensi-dimensi efektivitas
kelompok ini adalah Understanding,
relevance, and commitment to goals (pemahaman, relevansi, dan komitmen
mencapai tujuan), Communication of ideas
and feelings (komunikasi akan ide dan perasaan), active participation and distribution of leadership (partisipasi
aktif dan persebaran kepemimpinan), flexible
use of decision making procedures (prosedur pengambilan keputusan yang
fleksibel), encouragement and
constructive management of conflicts (dorongan dan manajemen konflik
konstruktif), equality of power and
influence (kesamaan kekuatan dan pengaruh), high group cohesion (kohesivitas kelompok yang tinggi), high problem solving strategies (strategi
pemecahan masalah yang tinggi), high
interpersonal effectiveness ( efektivitas interpersonal yang tinggi).
Pada proses
pelatihan angklung, terdapat tiga inti kegiatan. Yang pertama adalah proses
mengajarkan memainkan angklung, ke dua adalah pengenalan nada atau not, dan
yang ke tiga adalah berlatih memainkan sebuah lagu dengan menggunakan angklung.
Proses pelatihan angklung ini dapat berjalan secara intensif ataupun hanya
bersifat satu kali, namun dampak yang dirasakan darinya sangatlah besar.
Semakin tinggi intensitasnya, maka manfaat yang diperoleh akan semakin besar,
dan hasilnya dapat sampai pada tahap penampilan musik.
Awalnya,
sekumpulan orang yang bermain angklung, hanya merupakan sekumpulan orang yang
mempunyai minat yang sama, kebanyakan yaitu ketertarikan terhadap alat musik
angklung. Setiap orang biasanya mempunyai tujuan yang berbeda untuk mengikuti
pelatihan angklung.
Dalam proses proses
pelatihan angklung, yang pertama adalah menjelaskan mengenai sifat dari alat
musik ini yang hanya menghasilkan satu nada setiap alat musiknya. Itu artinya,
sebelum berlatih memainkan angklung untuk menghasilkan lagu, diperlukan
penekanan dari pelatih bahwa setiap pemain harus memperhatikan instruksi
pelatih agar memainkan angklung masing-masing di saat atau ketukan yang tepat
sesuai nada yang seharusnya ia mainkan. Setelah itu, diajarkan mengenai cara
memainkan angklung yaitu dengan cara digetarkan. Memulai dan berhenti
memainkannya harus bersama-sama, sesuai dengan instruksi pelatih. Pelatih
memberi instruksi memulai dan berhenti menggetarkan angklung secara
bersama-sama. Melalui proses ini, setiap peserta ditanamkan mengenai pentingnya
peran pemimpin, dalam hal ini pelatih untuk menggerakkan sebuah kelompok.
Selain itu juga pemain mulai menanamkan mengenai pentingnya peran kebersamaan
dalam memulai sesuatu dalam konteks kerja kelompok.
Tahap
selanjutnya adalah pengenalan nada atau not. Pengenalan not ini bisa dilakukan
dengan berbagai cara. Dapat dengan cara menunjuk not atau angka yang sudah
ditulis, ataupun dengan kode tertentu yang diberi pelatih yang biasa disebut
“Hand Sing”. Setiap pemain diberi tahu nada apa yang dimainkannya, setelah itu
diminta bermain di saat kode tertentu diberikan. Pada tahap ini, setiap pemain
mulai memahami mengenai pentingnya peranan masing-masing beserta tanggung jawab
yang dipegangnya dalam kelompok ini. Setelah pemain benar-benar memahami kode
yang diberikan beserta peran angklung yang dimainkannya, barulah dapat melaju
ke tahap berikutnya.
Tahap yang
lebih tinggi adalah berlatih memainkan lagu. Pada tahap ini, pelatih membimbing
seluruh pemain untuk bermain sebuah atau lebih lagu. Sebelumnya, antara pelatih
dan pemain harus mempunyai komitmen dan pemahaman mengenai tujuan dari proses
pelatihan ini, yaitu untuk menghasilkan sebuah lagu bersama-sama. Pada tahap
inilah terjadi banyak penghayatan pada pemain dalam hal kerja sama untuk
membangun sebuah tim yang efektif. Awalnya, setiap pemain harus memahami tujuan
setiap kegiatan latihan dan membangun komitmen untuk menjalaninya (Understanding, relevance, and commitment to
goals). Dalam setiap proses latihannya, diperlukan banyak orang agar setiap
nada yang harus ada pada bagian tertentu dapat berbunyi. Biasanya, satu orang
memegang tiga sampai lima buah angklung yang berbeda agar setiap nadanya dapat
berbunyi lebih dari satu suara. Artinya, jika satu orang tidak hadir, maka tiga
sampai lima nada dapat hilang dalam suatu lagu sehingga menghambat proses
latihan. Sehingga partisipasi dan peran setiap orang menjadi sangatlah penting
(active participation and distribution of
leadership). Pada proses ini, timbul penghayatan mengenai pentingnya peran
setiap orang dan kerja sama. Untuk itu diperlukan kerekatan atau kohesivitas
yang tinggi pada sekelompok orang ini dalam proses latihannya (high group cohesion).
Dalam
prosesnya, apabila ada kesalahan bermain pada satu atau beberapa orang, maka
pelatih akan mengulang bagian tersebut hingga orang yang awalnya belum dapat
memainkannya dengan benar, pada akhirnya dapat memainkannnya dengan benar. Pada
proses ini, pemain lain yang sebenarnya telah bermain benar harus dengan sabar
ikut mengulang suatu bagian untuk memperbaiki teman lainnya, atau di sisi lain,
harus menunggu dan tidak bermain saat giliran bermainnya tertunda. Sehingga
proses ini sangat menuntut kesabaran dan rasa pengertian setiap pemain dan
pelatih sehingga interaksi antarpemain dan pelatih dapat berjalan dengan baik (interpersonal effectiveness).
Semakin tinggi
intensitas pertemuan dalam proses pelatihan angklung, setiap orang dalam tim
semakin saling memahami, menunjukkan potensi yang dimilikinya, saling
bergantung, dan saling berusaha menyesuaikan diri. Namun, tentunya konflik
tidak dapat terelakkan dalam proses ini. Maka untuk mempertahankan tim
diperlukan strategi penanganan konflik yang sesuai untuk tim. Kesesuaian ini
hanya dapat tercapai jika pengambilan keputusan dapat membuat tim secara
keseluruhan nyaman melalui proses penyampaian ide dan pikiran (Communication of ideas and feelings, high
problem solving strategies, encouragement
and constructive management of conflict, flexible use of decision making procedures).
Tahap yang
tertinggi yang merupakan hasildari
pelatihan angklung adalah penampilan. Dalam penampilan ini, setiap pemain
berusaha mengeluarkan usaha optimalnya yang telah dipelajari melalui proses
latihan. Ketika tampil dan setelahnya, semakin timbul penghayatan dan
pemahaman-pemahaman baru dari pengalaman ketika menjalani proses latihan.
Selain itu timbul rasa kebersamaan yang kuat dan kepuasan dari hasil kerja
keras bersama.
Sekumpulan orang yang awalnya hanya mempunyai
minat yang sama, kemudian berkembang menjadi sebuah tim yang efektif melalui
proses pelatihan angklung. Dan yang paling menarik adalah, semua ini berjalan
dengan apa adanya dan menyenangkan dengan cara yang mudah, murah, menarik,
mendidik, dan massal, sesuai dengan karakteristik yang dimiliki angklung.
Mari kita terus mengeksplor potensi dan keunikan angklung yang dapat mendukung berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari kita !!
Posted by mbt shoes, on 29-07-2010 11:46, IP 125.77.238.130, Guest
4. mbt shoes
welcome to http://www.kissmbtshoes.com and look forward to your best choice for mbt shoes. Go into http://www.wedding-dresses-
mall.com look forward to you choice for wedding dresses.