| Written by Listia Rahmandaru Guntur, on Tuesday, 26 January 2010 |
| Average user rating |
(0 vote) |
|
| Views |
795  |
|
Jika sebelumnya telah dikenal tahap-tahap penguasaan lagu secara teknis yang terdiri dari 15 tahap yaitu : (1) Baca, (2) Menyanyi,(3) Nyambung, (4) Lepas, (5) Hafal (6) Nada Sulit, (7) Kecermatan Bermain, (8) Variasi Tempo, (9) Ketangkasan, (10) Latihan Dirigen, (11) Dinamika, (12) Penjiwaan, (13) Konsentrasi, (14) Kontak Batin, (15) Tim Solid Maka, disini saya akan mencoba membahas mengenai tahap pengusaan lagu dari sisi psikologis. Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek psikologis sangat berpengaruh dalam suatu penampilan lagu. Lebih spesifiknya, yang dimaksud aspek psikologis disini adalah dalam konteks penghayatan lagu oleh pemain dan conductor sehingga tentunya lagu juga dapat dihayati oleh pendengar. Apabila sejak awal (atau secepatnya) pemain dapat diajak untuk menikmati dan menghayati lagu, maka akan lebih mudah untuk melatihkannya, karena dapat menjadi faktor sugesti untuk segera membuat lagu yang dilatihkan menjadi indah dan dapat dinikmati pemain maupun pendengar. Berdasarkan pengalaman bermain dan melatih angklung selama kurang lebih 7 tahun penulis, berikut ini tahap penguasaan lagu dari sisi psikologis; sebagai catatan, hal ini masih terus dalam tahap penelusuran lebih lanjut sehingga belum sempurna, oleh sebab itu diharapkan komentar dari pembaca. 1. Tahap kaget/terpana oleh lagu baru. Pada tahap ini pemain biasanya terpana atau bahkan masih “kaget” terhadap partitur lagu yang disajikan. Hal ini dapat berdampak positif maupun negatif. Dampak positifnya, pemain merasa “penasaran” untuk memainkannya, sedangkan negatifnya pemain justru merasa terbebani. Persepsi ini sebenarnya sangat tergantung kepada bagaimana pelatih memperkenalkan lagu di awal latihan. Menurut penulis, yang paling baik dalam memperkenalkan lagu adalah dengan mendorong pemain untuk bermain sebaik mungkin sehingga menjadikannya indah serta dapat dinikmati oleh semuanya. Dengan kata lain, pemain sebaiknya “ditantang” untuk mengeluarkan potensi maksimalnya demi tujuan bersama, tetapi sebagai catatan sebaiknya jangan sampai “tantangan” tersebut menjadi beban, melainkan menjadi motivator.
2. Tahap “cepat puas”. Terkadang, setelah beberapa lama berlatih (terutama untuk jangka waktu panjang) pemain merasa terlalu cepat puas, merasa bahwa mereka telah bermain dengan cukup baik. Dalam hal ini biasanya pemain mulai cukup menikmati dalam memainkannya, sedangkan belum bisa sepenuhnya dinikmati oleh pendengar (terutama bagi yang mengerti musik). Sebagai pelatih yang ingin menghasilkan tim yang lebih baik, hal ini harus diantisipasi. Semangat pemain yang ditunjukkan dengan “merasa bahagia/puas” karena telah dapat menghasilkan lagu sebenarnya harus dipertahankan, karena mengindikasikan bahwa mereka mendapat kepuasan psikologis dari berlatih angklung. Di sisi lain, jika ingin meningkatkan kualitas, pelatih tetap harus menjaga agar rasa terlalu cepat puas tersebut tidak membuat tim stagnant dan tidak berkembang. Oleh sebab itu pelatih dapat membuat ungkapan seperti “Hingga saat ini perkembangan lagunya sudah cukup baik, tetapi belum cukup baik untuk...., hingga saya yakin kita semua dapat jauh lebih baik dari ini sehingga kita memerlukan latihan yang lebih keras” atau pernyataan sejenisnya yang dapat tetap mengungkapkan apresiasi terhadap usaha pemain sebelumnya, tetapi di sisi lain memotivasi untuk menjadi lebih baik lagi. 3. Tahap “sadar diri”. Pada tahap ini, pemain menyadari bahwa ternyata permainan mereka belum cukup baik. Hal ini biasanya terjadi jika telah melalui proses evaluasi yang ditonton dan dinilai banyak orang, atau dibandingkan dengan tim lain. Kesadaran ini juga dapat berdampak positif maupun negatif. Dari sisi positif, pemain akan merasa terus tertantang untuk berusaha mewujudkan lagu sesuai keinginan bersama, namun di sisi negatif jika perasaan itu berlebihan, dapat menimbulkan rasa desperate dan malas meneruskan “perjuangan”. Hal ini tentunya harus diantisipasi oleh pelatih dengan cara terus menjaga motivasi pemain. 4. Tahap “muak”. Yang dimaksud dengan tahap “muak” disini adalah ketika pemain merasa bosan dan terkadang “terpaksa” untuk menjalani proses latihan keras dan berulang-ulang dengan segala tuntutan lagunya. Sekilas terdengar negatif, tetapi berdasarkan pengalaman, justru tahap ini hampir mendekati tahap yang tertinggi yaitu tahap “penjiwaan” atau “menikmati”. 5. Tahap “penjiwaan” atau “menikmati”. Setelah melalui latihan keras dan berulang-ulang (yang terkadang bisa dinikmati dan juga tidak), pemain lama-kelamaan akan terbiasa dan secara otomatis “gerakan tubuh” akan mengikuti lagu tersebut. Tahap inilah yang akan membawa pemain beserta conductor semakin menikmati dan menjiwai lagu yang dibawakan. Niscaya, jika pemain dan conductor telah mencapai tahap ini, maka ketika menampilkannya pun baik secara visual maupun auditori dapat dinikmati oleh pendengar. Mungkin, jika waktunya mepet, dapat dicoba untuk segera "loncat" ke tahap "muak", tetapi tentu saja kesuksesannya tergantung pada cara pelatih menerapkannya, serta bagaimana respon pemain. Tak lupa bahwa peran pelatih yang biasa merupakan sekaligus conductor tim sangatlah besar, sehingga apa sikap yang ditunjukkan oleh mereka dapat sangat berpengaruh terhadap perkembangan tim. Untuk itu penanganan suatu tim akan lebih baik jika ditangani oleh orang yang tetap, kalaupun berganti-ganti harus tetap ada transfer learning dari pelatih satu ke pelatih lainnya mengenai perkembangan tim terakhir. Demikian sebatas pengalaman dari penulis, semoga bermanfaat. Sangat diharapkan komentar dari pembaca agar artikel ini dapat disempurnakan. Terima kasih.
Users' Comments (1)  |
|
|